PERANG IKLAN POLITIK (Air War) Elite Politis

Jumat, 05 Desember 2008




Perang Iklan Politik (Air War)
Kalangan Elite Politisi dan Capres


Oleh, Rosady Ruslan

Artinya secara umum, "Bahwa iklan layanan masyarakat yang tema sesungguhnya terpusat pada fokus peningkatan kesejahteraan masyarakat, melengkapi informasi dan meningkatkan kesadaran mengenai isu-isu sosial, bagaimana caranya dapat memberikan sumbang saran yang baik. Sejumlah kegiatan amal kemanusiaan oleh lembaga non-profit, seperti yang dilaksanakan oleh lembaga kepemerintahan melalui penggunaan iklan layanan sosial yang lebih bersifat mendidik dan membujuk kesadaran masyarakat. "
Pelaksanaan ‘hiruk-pikuk’ atau "gebyar" perang pemasaran iklan politik (airwar)tersebut secara dinamis, inovatif dan kreatif hingga berdampak akan menggelontorkan banyak dana di Indonesia dimulai sejak awal pemerintahan reformasi dan hingga kini mengalami kemajuan pesat, banyak dimanfaatkan oleh kalangan para kandidat atau Parpol sebagai kontestan Pemilu melaksanakan Pilcaleg dan Pilpres/Wapres, termasuk Pilkada untuk merebut posisi jabatan Pilgub/Wagub, hingga pejabat publik lainnya, terjadi persaingan yang tajam para anggota parlemen antar multi-parpol melalui sistem pemilihan secara demokratis, langsung dan bebas. Bagaimana kemampuan masing-masing kandidat politisi menggunakan strategi komunikasi pemasaran dan hingga pelaksanaan pemasaran politik melalui konsep-konsep dari penggiatan yang terkait dengan; political communication (komunikasi politik), political campaign (kampanye politik), political proganda (propaganda politik), political advertising (iklan politik) bertujuan untuk memasarkan, menjual atau ingin menebar janji-janji harapan bernuansa ‘angin surga’ kepada konstituennya melalui pesan-pesan kampanye iklan politiknya.
Memperhatikan perbedaan tujuan dasar dari pelaksanaan suatu kampanye iklan politik (Newman, Bruce I. 1999 ) yang dilakukan oleh antara tim marketing-commercial (pemasaran komersial) dan election campaign (kampanye pemilihan umum), secara esensial bahwa pemasaran politik yang diusung oleh kandidat atau parpol tersebut pada prinsipnya hampir sama dengan strategi perencanaan pemasaran komersial peluncuran produk, tujuan iklan politik (political advertising) yang juga sama dengan iklan komersial lainnya, termasuk strategi komunikasi dan persuasif yang merupakan hal sama dapat dipergunakan baik kegiatan kampanye pemasaran komersial maupun kampanye pemasaran politik dengan memanfaatkan media massa untuk penyampaian pesan-pesan komunikasi terhadap para khalayak sasarannya.
Pihak pemilih sebetulnya yang menginginkan konfirmasi lebih jauh mengenai tujuan pihak parpol atau kandidat yang sesuai tidak dengan harapan-harapan, keinginan, aspirasi, kejujuran, dan motivasi pemilih. Maka menurut Kapter L. (1990), ada beberapa tahapan yang penting bagi prilaku pemilih (voter behaviour) dalam menentukan pilihannya terhadap kandidat melakukan kampanye politik, yaitu bercirikan sebagai berikutnya; citra atau daya pesona yang ditonjolkan, kualitas personal dan nilai kepercayaan yang dimiliki, dan representasi sosial yang muncul dari pihak pribadi kandidat
Dalam hal ini, yang berkaitan dengan penampilan suatu citra dengan gambaran, aspek popularitas, kepercayaan dan kesan-kesan keseluruhan terhadap sosok kandidat Presiden atau Wapres, dan kinerja Parpol yang sudah ‘pas’ atau tidak dibenak pemilihnya. Paling tidak, dalam penyampaian pesan-pesan Parpol atau kandidat, yaitu memiliki tiga media saluran komunikasi-kampanye politiknya, sebagai berikut:

  • Public Relations, meningkatkan perhatian pemilih terhadap publikasi pesan-pesan politik melalui komunikasi terpercaya disampaikan ke berbagai media massa eletronik dan cetak lainnya untuk meningkatkan citra dan pupularitas secara signifikan. Kemungkinan terjadi tekanan pesan yang disampaikan dengan menampilkan suatu citra yang diinginkan terlalu berlebih-lebihan, karena tindakan tersebut cenderung menciptakan berita baik (good news) sebagai upaya menutupi berita-berita yang berkesan buruk (bad news) atau disebut dengan teknik PR melalui tindakan green wash.
    Salah satu keberhasilan aktivitas kampanye politik dari kandidat muda (Capres AS), Barack Obama,47 melalui media on-line internet yaitu website-situs atau Blog-nya (http://www.barackobama.com/ atau http://www.my.barakom/) yang selalu di–update untuk mengadakan komunikasi atau berdialog dengan konstituennya dan sekaligus menciptakan popularitas tinggi, dan citra positif melalui slogan yang terkenal; Change, We Believe In yang didukung dengan tidak kurang 400 produk media kampanyenya yang disebarluaskan mulai dari kaos T-shirt, topi, pin, jacket, cankir (mog), banner, spanduk, poster dan hingga sticker lain sebagainya. Termasuk menggelontorkan dana iklan politik sekitar US$ 75 juta (Rp. 245 milyar lebih). Selain mengadakan kunjungannya pada Juli 2008, ke berbagai negara Uni Eropa, Jerman, Prancis dan hingga ke Israel dan Irak yang disambut sangat antusias, hangat dan dielu-elukan oleh ribuan warga negara dan kepala negara setempat karena citra, daya pesona, pengaruh karisma dan populeritas sosok kandidat Obama bagaikan selebritis yang terkenal. Terakhir dalam acara konvensi nasional yang terbesar tahun ini dilaksanakan di Denver, Colorado pada akhir Agustus lalu oleh Partai Demokrat dengan resmi mencalonkan senator Barack Obama sebagai presiden AS mendatang tersebut cukup ‘wah’ dan sukses yang menyita perhatian publik dan mendapat sambutan hangat dari pendukung yang hadir sedikitnya 85 ribu, dan acara tersebut ditonton oleh 40 juta pemirsa melalui lima stasiun TV besar di Amerika Serikat. Perjalanan akhir kampanye politiknya Obama sukses dalam memenangkan ‘pertarungan’ dengan rivalnya, John Mc Cain untuk menjadi Presiden negara adijaya, Amerika Serikat yang ke-44, yang akan dilantik pada Januari 2009.

  • Personal Contact, merupakan media kontak personal dari sosok penampilan karakteristik, kharisma dan sikap pribadi kandidat yang dapat dikontrol dengan baik terhadap kesan-kesan publik sebagai pemilihnya secara positif. Kandidat harus memiliki kemampuan kontak personal atau berdialog secara efektif dan langsung untuk penyampaian pesan-pesannya yang harmonis sesuai dengan aspirasi atau keinginan konstituennya melalui pembentukan sistem 'jaringan' atau menunjuk suatu korlap (koordinasi lapangan). Menyelenggarakan jumpa-kontituen serta tidak terhindarkan Caleg akan membagi-bagikan sembako murah dan tebar 'amplop' kepada calon pemilihnya di berbagai daerah (dapil), pemberian HP (handphone) yang merupakan suatu pelanggaran dalam kampanye politik, penyebaran sticker, kartu nama dan hingga berbagai hadiah untuk menarikan perhatian pemilihnya.

  • Political Advertising, melalui media komunikasi periklanan politik dengan menggelontorkan dana cukup besar, namun kekuatannya untuk menciptakan popularitas, citra dan tebar pesona pribadi kandidat (candidat & performace image) cukup tinggi hasilnya, maka setiap konten pesan, dan lambang atau simbol yang ditempatkan ke saluran media komunikasi iklan politik harus memiliki tema atau konsisten, arti yang jelas, fokus dan secara terus menerus (repition), mampu menanamkan kesan-kesan merek (brand impressions) atau slogan tertentu ke dalam benak konstituen secara tepat, mudah diingat dan cukup efektif.

Kampanye politik yang dilancarkan oleh kandidat presiden melalui saluran media tersebut diatas, kalau berhasil akan menciptakan kampanye positif (positive campaign) untuk meningkatkan citra dan popularitas tinggi, tetapi sebaliknya salah dalam mengelola kampanye bertemakan atau isu-isu yang diusung yang kurang efektif atau tidak tepat akan menjadi bumerang alias menjadi kampanye negatif (negative campaign) yang dapat merugikan citra kandidat bersangkutan. Contoh kontestan Capres AS, Hillary Clinton mengusung tema ‘Orang yang berpengalaman layak menjadi Presiden’ (karena mantan first lady), dan sambil melakukan kampanye menyerang kontestan lainnya, sehingga menimbulkan banyak ‘sandungan’ yaitu terkesan arogan dan melecehkan pihak kontestan Capres lainnya, sebagai akibatnya perolehan suara tidak maksimal di tingkat premary dan pemilihnya cukup cerdas untuk tidak memilih Capres Hillary dan bahkan diplesetkan negatif menjadi ‘Ogah memilih Bill-Hillary’.

Kampanye Perang Iklan PARPOL dan CAPRES RI 2009
Kampanye dari Partai politik (Parpol) dan Calon Presiden RI (Capres) menghadapi pertarungan Pemilu 2009, memasuki era baru melalui pendekatan political advertising atau iklan politik yang seperti halnya dilakukan oleh pihak perusahaan mengkampanyekan produk komersial baru ke pasaran untuk merebut perhatian publik atau khalayak sasarannya, sebagai upaya meningkatkan awareness terhadap product knowledge-nya, sehingga mampu selain merebut perhatian dan sekaligus untuk memperoleh dukungan serta simpatisan publik yang lebih tingggi.
Demokrasi itu memerlukan dana yang cukup mahal, kata Dedy Syahrizal, President Director Blinkomunika (Majalah Mix No.8/Agustus-September 2008:78-79), yang telah menangani beberapa personal branding dari sejumlah calon kepala daerah (Pilkada) secara jor-joran melakukan kampanye melalui iklan politik di berbagai media saluran TV komersial dan termasuk media massa cetak, memasang spanduk, giant poster, sticker dan lain sebagainya yang membutuhkan dana yang tidak kecil. Seperti contoh, tim kampanye Capres AS, Barrack Obama yang selama berkampanye paling tidak harus membelanjakan kampanye iklan politiknya sekitar Rp 2 triliun.
Untuk belanja kampanye iklan politik di Indonesia, mungkin tidak sebesar itu, seperti belanja iklan para politisi, dari Capres/Cawapres, Cagub/Cawagub, Cawakot dan hingga Pilcaleg, yaitu contohnya Capres Prabowo Subianto, Sutrisno Bachir, Wiranto, Rizal Mallarangeng dan SBY yang sering dengan menggunakan kampanye iklan politik komersial TV dan Media Cetak, untuk tarif prime time untuk durasi satu menit bisa mencapai Rp 30-45 juta, pada hal dalam satu hari rata-rata dapat mencapai 180 tayangan iklan komersial yang bertujuan untuk menciptakan pencitraan personal branding di berbagai saluran TV-komersial.
Misalnya, Ketua Partai Amanat Nasional (PAN), Sutrisno Bachir yang tidak hanya berkampanye politik melalui iklan politik di saluran media televisi komersial, tetapi juga mampu menciptakan awareness, populeritas dan sekaligus meningkatkan citra pribadinya dengan memanfaatkan kampanye melalui placement iklan di berbagai bioskop jaringan Studio 21, media luar ruang dan hingga road show atau temu muka dengan para konstituennya di berbagai daerah sasaran dengan asumsi dana yang dikeluarkan selama berkampanye politik tersebut bisa mencapai Rp 5-7 miliar bahkan bisa mencapai Rp 300 miliar lebih. Selain perang iklan politik di berbagai media massa, dan juga diikuti perang pernyataan antar sesama Capres dan Parpol melalui berbagai kesempatan dalam kampanye Pemilu 2009, yang saling menyerang (negative campaign) sehingga dapat menimbulkan polemik atau bahkan kontroversial, misalnya isyarat pecah kongsi yang ditakwilkan lewat kampaye Capres Jusuf Kalla di layar kaca dengan mengusung tentang keberhasilan Partai Golkar yang tengah berakting setengah menantang sambil membuka kancing lengan baju untuk digulung ketas, dan seraya berkata “Lebih cepat lebih baik.” Bangsa Indonesia membutuhkan peimpian yang cerdas dan bergerak cepat demi pembangunan, tegas Jusuf Kalla
Belum lagi pihak Partai Golkar dan Partai Demokrat yang mewakili SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) yang selama ini terlihat kompak, dan kini sedang terindikasi pecah kongsi dalam menghadapi Pemilu 2009 ini, terkesan dengan slogan yang diplesetkan “Bersama kita tidak bisa lagi berlanjut,” untuk saling bersaing siapa yang berhak menyandang R-1 di Pilpres mendatang.
Posisi menjelang akhir jabatan Presiden alias incumbent SBY yang terkesan tengah dikroyok ‘habis-habisan’ oleh Capres pesaing lainnya, seperti Wiranto dari Partai Hanura lewat jargon iklannya di berbagai media massa dan billboard yang bernada mengancam kegagalan program pemerintah SBY yang tidak pro-rakyat, “Jangan bohongi rakyat lagi !”. Selanjutnya, Wiranto menegaskan bahwa sudah saatnya rakyat Indonesia memilih pemimpin yang menggunakan hati nurani, bukan lagi menggunakan logika untung rugi. Mbak Mega tidak mau kalah ‘sewotnya’ atau terkesan ‘nyinyir’ saat Mbak Mega dan PDI-Perjuangan tengah berkampanye di Lapangan Mangli, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember (Jumat 20/03/09), yang menilai sekian kalinya program pemberian BLT (Bantuan Langsung Tunai) pemerintahan SBY tersebut, merupakan bentuk pembodohan dan tidak menghargai pribadi rakyat Indonesia. “Saya kasihan dengan rakyat yang rela berdempet-dempetan hanya untuk mengejar uang senilai Rp 200 ribu.” Selain itu dipertanyakan oleh Mbak Mega, kenapa dana BLT tersebut dibagi-bagikan tersebut saat musim berkampanye?, hal ini merupakan dosa besar jika kesulitan hidup rakyat dimanipulasi untuk kepentingan politik jangka pendek.” Maka pihak PDI-Perjuangan menurunkan kader-kader untuk kepengawasan pemberian BLT tersebut agar tidak melenceng, maka ujar Mbak Mega dengan menurunkan seluruh Caleg dan relawan PDIP keseluruh ke lokasi-lokasi pemberian BLT secara nasional, kegiatan program SBY tentang BL ini terdapat dalam iklan politik PDI-Perjuangna yang seolah-olah mendukung secara langsung program BLT.


Belum lagi 'sindiran' kampanye salah satu dari iklan politik, Partai Gerindra dan tokohnya Prabowo Subianto, yang mempertanyakan dana Stimulus Fiskal senilai Rp 7,3 triliun yang digulirkan pemerintah SBY lebih banyak untuk kepentingan pengusaha dan lapisan atas dalam rangka mengatasi krisis keuangan tersebut. Sedangkan program stimulus untuk prorakyat hanya diberikan hanya 1%. "Angka ini yang cukup memprihatinkan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia dalam menghadapi krisis," tegas Prabowo Subianto.
Lalu apa ko
mentar SBY, terhadap serangan negatif dan kritikan tajam dari lawan politik atau Capres dari parpol pesaing lain tersebut?. “Politik itu harus cerdas bukan hanya menyalahkan, mencaci maki dan mengancam, “Beri bukti bukan janji-janji.” Kita ingin berpolitik sesuai dengan nilai-nilai luhur, keperibadian bangsa, dan menolak politik yang kasar yang tidak membikin tenteram kehidupan masyarakat di negeri ini, ujar SBY berorasi dan kampanye di hadapan ribuan simpatisan Partai Demokrat di Stadion Bumi Sriwijaya, Palembang (Sumsel), (Selasa,22/03/09). Catatan masyarakat miskin sebagai penerima BLT ini telah tercatat 18,7 juta rumah tangga sasaran, dana yang digelontorkan pemerintah BLT tahap ketiga ini sekitar Rp 3,7 triliun
Kemudian kritikan Mbak Mega mengenai program BL tersebut, disanggah langsung oleh Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah (dari Parpol PPP) yang mengganggap Megawati tidak pernah merasakan ‘kelaparan’ yang ngomong seperti itu. Kebijakan BLT bukan produk instan pemarintah, melainkan program yang didasarkan pada hasil survey tentang kebitruhan riil masyarakat yang berpenghasilan rendah. Setelah diberdayakan rakyatnya, maka pemerintah juga menyiapkan program BOS (Bantuan Operasional sekolah), termasuk Kredit Usaha Rakyat dan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, kata Mensos di Tulungagung.




Apa lagi menjelang hari "H" Pemilu-Pilaleg 9 April 2009 ini, aktivitas kampanye Pilpres/Wapres, Parpol dan hingga Caleg yang semakin "jor-joran" atau meningkat suhu perang iklan (airwar) politik untuk menayangkan kampanye "janji-janji manis" iklan Parpol, Capres dan hingga Caleg kian membabi buta di berbagai media massa, baik di media cetak maupun media elektronik 'seolah-olah' elite politisi tidak sadar dalam suasana krisis keuangan global di tahun 2009 ini dampaknya semakin mengkuatirkan kita semua di dalam kondisi perekonomian nasional kian memburuk atau PHK masal yang terjadi dimana-mana diberbagai perusahaan di pusat dan daerah cukup memprihatinkan, masyarakat miskin dan pengangguran makin bertambah banyak!".

------------ ***** -------------

(Rosady Ruslan, SH, MM)
Dosen PR-Universitas Mercu Buana,Universitas Al-Azhar Indonesia dan Stikom InterStudi Jakarta, Penulis buku Etika Humas & Aspek Hukum Komunikasi.

0 comments

Poskan Komentar